📍 Tanjung Pandan, Kab. Belitung, Kepulauan Bangka Belitung
IATA: TJQ ICAO: WIKT

Sejarah Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin

Dari lapangan terbang darurat masa pendudukan Jepang hingga gerbang udara internasional kebanggaan Pulau Belitung.

📅 Dibangun: 1942–1943 🏛 Berganti Nama: 1998 ✈ Status Internasional: 2017 & 2025

1. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)

Bangunan bersejarah kawasan Bandara HAS Hanandjoeddin
Bangunan di kawasan Bandara H.A.S. Hanandjoeddin yang menyimpan jejak sejarah panjang sejak era kolonial.

Sejarah Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin bermula dari peristiwa bersejarah 10 April 1942, ketika bala tentara Jepang menduduki Pulau Belitung sebagai bagian dari strategi militer mereka di wilayah Asia Pasifik. Dalam rangka menunjang kegiatan operasi militer di kawasan ini, tentara Jepang segera mengidentifikasi lokasi strategis untuk membangun fasilitas penerbangan.

Kawasan Buluh Tumbang di Kecamatan Tanjungpandan dipilih sebagai lokasi pembangunan. Tentara Jepang kemudian mengerahkan tenaga kerja paksa (romusha) — terdiri dari penduduk setempat dari Desa Buluh Tumbang dan desa-desa sekitarnya — bersama karyawan perusahaan timah peninggalan Belanda, NV Gemeen Schappilijk Mij Billiton (NV GMB), untuk membangun lapangan terbang militer.

Konstruksi landasan udara dimulai sekitar tahun 1943 dan menghasilkan landasan pacu dasar yang mampu mengakomodasi pesawat-pesawat militer Jepang. Fasilitas ini diberi nama Pelabuhan Udara Buluhtumbang Tanjungpandan. Selama periode pendudukan, keberadaan perusahaan NV GMB yang menguasai tambang timah Belitung menjadi faktor penting dalam mendukung logistik pembangunan bandara, dengan maskapai KLM (Maskapai Penerbangan Belanda) sebelumnya telah mengoperasikan pesawat DC-3/Dakota dari fasilitas ini.

Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, pasukan pendudukan ditarik mundur dari Pulau Belitung, meninggalkan landasan udara Buluh Tumbang tanpa serah terima resmi.

2. Pasca Kemerdekaan Indonesia (1945–1997)

Pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Bandar Udara Buluh Tumbang dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum. Tahun 1952, lapangan udara ini resmi diambil alih oleh Departemen Penerbangan Sipil (DPS) Pusat di bawah kepemimpinan Syahbandar Hidayat — menandai babak pertama penerbangan sipil yang terorganisir di Belitung.

Pada tahun 1954, pengelolaan berpindah ke Jawatan Penerbangan Sipil. Sejak saat itu, fasilitas udara di Tanjungpandan berkembang secara bertahap untuk melayani kebutuhan penerbangan komersial yang terus meningkat seiring berkembangnya industri timah Belitung.

Paralel dengan pengembangan sipil, TNI Angkatan Udara juga membangun kehadiran institusionalnya di kawasan ini. Sejak 1958, Pangkalan TNI AU Tanjungpandan resmi beroperasi dan terus berkembang statusnya — dari Detasemen Penghubung, menjadi Lanud kelas III pada 1966, hingga akhirnya menjadi Pangkalan TNI Angkatan Udara H. AS Hanandjoeddin pada tahun 2012. Pada akhir dekade 1970-an, Bupati Belitung saat itu — Letnan Kolonel (U) H. AS Hanandjoeddin sendiri — menghibahkan lahan bagi pembangunan markas komando Lanud Tanjungpandan yang permanen.

3. Pergantian Nama Resmi (1998)

Tanggal 14 Januari 1998 menjadi tonggak bersejarah bagi Bandara Buluh Tumbang. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor SK 4/AU.106/PHB-98, nama bandara secara resmi diubah menjadi Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin. Pergantian nama ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dari pemerintah dan masyarakat atas jasa-jasa besar almarhum Haji Ahmad Sanusi Hanandjoeddin bagi bangsa dan khususnya bagi Pulau Belitung.

Peraturan Terkait: Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Bandar Udara, Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) kelas II di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI.

4. Sosok H.A.S. Hanandjoeddin

Letnan Kolonel (Purnawirawan) Haji Ahmad Sanusi Hanandjoeddin lahir di Tanjung Tikar, Bangka Belitung, pada 5 Agustus 1910 (beberapa sumber menyebut Mempiu, Kecamatan Membalong, Belitung) dan wafat pada 5 Februari 1995. Ia adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan, pelopor Angkatan Udara Indonesia, dan putra asli Belitung yang mencapai karier gemilang.

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Hanandjoeddin bergabung dalam Ozawa Butai (satuan dinas penerbangan Jepang) dan dipercaya sebagai Hancho (pemimpin kelompok). Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, ia bersama Kelompok Pemuda Bagian Udara bergabung ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadi salah satu pelopor pembentukan BKR Udara (BKRO) di Malang, Jawa Timur.

Selama Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Hanandjoeddin dan tim teknik berhasil menyelamatkan 15 pesawat terbang dari Pangkalan Udara Bugis, sebuah prestasi luar biasa di tengah gempuran pasukan Belanda. Karier militernya berakhir sebagai Komandan Kompi Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) di Lanud Palembang, sebelum ia memasuki dunia pemerintahan dan menjabat sebagai Bupati Belitung periode 1967–1972.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak 2018 terus memperjuangkan agar Letnan Kolonel Psk (Purn.) H.A.S. Hanandjoeddin mendapatkan gelar resmi sebagai Pahlawan Nasional.

5. Era Modern & Internasionalisasi

Memasuki abad ke-21, Bandara H.A.S. Hanandjoeddin mengalami transformasi besar-besaran seiring meningkatnya popularitas Belitung sebagai destinasi wisata — terutama setelah kesuksesan film Laskar Pelangi (2008) yang membuat Belitung mendunia.

Pada akhir 2014, landasan pacu diperpanjang sehingga bandara dapat menerima pesawat Boeing 737-800NG, 737-900ER, dan Airbus A320. Perpanjangan hingga 3.660 meter selesai dan dioperasikan penuh pada 2016. Pada Januari 2017, Kementerian Perhubungan RI secara resmi menetapkan status Bandara Internasional untuk mendukung promosi pariwisata Bangka Belitung.

Garuda Indonesia kemudian membuka rute perdana internasional Tanjungpandan–Singapura, disusul AirAsia dengan rute Tanjungpandan–Kuala Lumpur menggunakan Airbus A320 pada 2019. Pandemi COVID-19 menghentikan seluruh operasional internasional sejak 2020. Status internasional sempat dicabut April 2024, namun dipulihkan kembali pada 2025.

6. Kronologi Lengkap

10 April 1942

Pendudukan Jepang di Belitung

Bala tentara Jepang menduduki Pulau Belitung. Pembangunan lapangan terbang Buluh Tumbang dimulai menggunakan tenaga romusha dan karyawan NV GMB.

1943

Lapangan Udara Beroperasi

Lapangan Udara Buluh Tumbang berhasil diselesaikan dan mulai digunakan untuk kegiatan militer Jepang di kawasan Pasifik.

Agustus 1945

Jepang Menyerah, Indonesia Merdeka

Pasukan Jepang ditarik dari Belitung. Bandara diambil alih Pemerintah Daerah melalui Dinas PU.

1952

Pengelolaan Sipil Pertama

Lapangan udara resmi diambil alih Departemen Penerbangan Sipil Pusat di bawah Syahbandar Hidayat.

1954

Beralih ke Jawatan Penerbangan Sipil

Pengelolaan berpindah ke Jawatan Penerbangan Sipil, menandai era penerbangan komersial terorganisir di Belitung.

1958

Pangkalan TNI AU Tanjungpandan

Pembentukan resmi Detasemen Penghubung AU Tanjungpandan, cikal bakal Lanud H.A.S. Hanandjoeddin.

14 Jan 1998

Pergantian Nama Resmi

Berdasarkan SK Menhub No. SK 4/AU.106/PHB-98, nama resmi diubah menjadi Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin.

2012

Lanud Berganti Nama

Pangkalan TNI AU Tanjungpandan resmi berganti nama menjadi Pangkalan TNI AU H.A.S. Hanandjoeddin.

2014–2016

Perpanjangan Landasan & Modernisasi

Landasan diperpanjang hingga 3.660 m; bandara mampu menampung B737-900ER dan A320.

Januari 2017

Status Internasional Ditetapkan

Kementerian Perhubungan RI menetapkan status bandara internasional; Garuda Indonesia membuka rute TJQ–Singapura.

2019

AirAsia Buka Rute Kuala Lumpur

AirAsia membuka rute Tanjungpandan–Kuala Lumpur menggunakan Airbus A320.

2020

Penghentian Penerbangan Internasional

Pandemi COVID-19 menghentikan seluruh penerbangan internasional.

April 2024

Status Internasional Dicabut

Pemerintah mencabut status internasional karena tidak adanya penerbangan internasional aktif.

2025

Status Internasional Dipulihkan

Status internasional Bandara H.A.S. Hanandjoeddin resmi dipulihkan — membuka kembali peluang penerbangan langsung ke luar negeri.