1. Masa Pendudukan Jepang (1942–1945)
Sejarah Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin bermula dari peristiwa bersejarah 10 April 1942, ketika bala tentara Jepang menduduki Pulau Belitung sebagai bagian dari strategi militer mereka di wilayah Asia Pasifik. Dalam rangka menunjang kegiatan operasi militer di kawasan ini, tentara Jepang segera mengidentifikasi lokasi strategis untuk membangun fasilitas penerbangan.
Kawasan Buluh Tumbang di Kecamatan Tanjungpandan dipilih sebagai lokasi pembangunan. Tentara Jepang kemudian mengerahkan tenaga kerja paksa (romusha) — terdiri dari penduduk setempat dari Desa Buluh Tumbang dan desa-desa sekitarnya — bersama karyawan perusahaan timah peninggalan Belanda, NV Gemeen Schappilijk Mij Billiton (NV GMB), untuk membangun lapangan terbang militer.
Konstruksi landasan udara dimulai sekitar tahun 1943 dan menghasilkan landasan pacu dasar yang mampu mengakomodasi pesawat-pesawat militer Jepang. Fasilitas ini diberi nama Pelabuhan Udara Buluhtumbang Tanjungpandan. Selama periode pendudukan, keberadaan perusahaan NV GMB yang menguasai tambang timah Belitung menjadi faktor penting dalam mendukung logistik pembangunan bandara, dengan maskapai KLM (Maskapai Penerbangan Belanda) sebelumnya telah mengoperasikan pesawat DC-3/Dakota dari fasilitas ini.
Ketika Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, pasukan pendudukan ditarik mundur dari Pulau Belitung, meninggalkan landasan udara Buluh Tumbang tanpa serah terima resmi.
2. Pasca Kemerdekaan Indonesia (1945–1997)
Pada awal masa kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, Bandar Udara Buluh Tumbang dikelola oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pekerjaan Umum. Tahun 1952, lapangan udara ini resmi diambil alih oleh Departemen Penerbangan Sipil (DPS) Pusat di bawah kepemimpinan Syahbandar Hidayat — menandai babak pertama penerbangan sipil yang terorganisir di Belitung.
Pada tahun 1954, pengelolaan berpindah ke Jawatan Penerbangan Sipil. Sejak saat itu, fasilitas udara di Tanjungpandan berkembang secara bertahap untuk melayani kebutuhan penerbangan komersial yang terus meningkat seiring berkembangnya industri timah Belitung.
Paralel dengan pengembangan sipil, TNI Angkatan Udara juga membangun kehadiran institusionalnya di kawasan ini. Sejak 1958, Pangkalan TNI AU Tanjungpandan resmi beroperasi dan terus berkembang statusnya — dari Detasemen Penghubung, menjadi Lanud kelas III pada 1966, hingga akhirnya menjadi Pangkalan TNI Angkatan Udara H. AS Hanandjoeddin pada tahun 2012. Pada akhir dekade 1970-an, Bupati Belitung saat itu — Letnan Kolonel (U) H. AS Hanandjoeddin sendiri — menghibahkan lahan bagi pembangunan markas komando Lanud Tanjungpandan yang permanen.
3. Pergantian Nama Resmi (1998)
Tanggal 14 Januari 1998 menjadi tonggak bersejarah bagi Bandara Buluh Tumbang. Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor SK 4/AU.106/PHB-98, nama bandara secara resmi diubah menjadi Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin. Pergantian nama ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dari pemerintah dan masyarakat atas jasa-jasa besar almarhum Haji Ahmad Sanusi Hanandjoeddin bagi bangsa dan khususnya bagi Pulau Belitung.
Peraturan Terkait: Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 7 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Bandar Udara, Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) kelas II di bawah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan RI.
4. Sosok H.A.S. Hanandjoeddin
Letnan Kolonel (Purnawirawan) Haji Ahmad Sanusi Hanandjoeddin lahir di Tanjung Tikar, Bangka Belitung, pada 5 Agustus 1910 (beberapa sumber menyebut Mempiu, Kecamatan Membalong, Belitung) dan wafat pada 5 Februari 1995. Ia adalah seorang tokoh pejuang kemerdekaan, pelopor Angkatan Udara Indonesia, dan putra asli Belitung yang mencapai karier gemilang.
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Hanandjoeddin bergabung dalam Ozawa Butai (satuan dinas penerbangan Jepang) dan dipercaya sebagai Hancho (pemimpin kelompok). Setelah Jepang menyerah pada Agustus 1945, ia bersama Kelompok Pemuda Bagian Udara bergabung ke dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan menjadi salah satu pelopor pembentukan BKR Udara (BKRO) di Malang, Jawa Timur.
Selama Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Hanandjoeddin dan tim teknik berhasil menyelamatkan 15 pesawat terbang dari Pangkalan Udara Bugis, sebuah prestasi luar biasa di tengah gempuran pasukan Belanda. Karier militernya berakhir sebagai Komandan Kompi Pasukan Gerak Cepat (Pasgat) di Lanud Palembang, sebelum ia memasuki dunia pemerintahan dan menjabat sebagai Bupati Belitung periode 1967–1972.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak 2018 terus memperjuangkan agar Letnan Kolonel Psk (Purn.) H.A.S. Hanandjoeddin mendapatkan gelar resmi sebagai Pahlawan Nasional.
5. Era Modern & Internasionalisasi
Memasuki abad ke-21, Bandara H.A.S. Hanandjoeddin mengalami transformasi besar-besaran seiring meningkatnya popularitas Belitung sebagai destinasi wisata — terutama setelah kesuksesan film Laskar Pelangi (2008) yang membuat Belitung mendunia.
Pada akhir 2014, landasan pacu diperpanjang sehingga bandara dapat menerima pesawat Boeing 737-800NG, 737-900ER, dan Airbus A320. Perpanjangan hingga 3.660 meter selesai dan dioperasikan penuh pada 2016. Pada Januari 2017, Kementerian Perhubungan RI secara resmi menetapkan status Bandara Internasional untuk mendukung promosi pariwisata Bangka Belitung.
Garuda Indonesia kemudian membuka rute perdana internasional Tanjungpandan–Singapura, disusul AirAsia dengan rute Tanjungpandan–Kuala Lumpur menggunakan Airbus A320 pada 2019. Pandemi COVID-19 menghentikan seluruh operasional internasional sejak 2020. Status internasional sempat dicabut April 2024, namun dipulihkan kembali pada 2025.
6. Kronologi Lengkap
Pendudukan Jepang di Belitung
Bala tentara Jepang menduduki Pulau Belitung. Pembangunan lapangan terbang Buluh Tumbang dimulai menggunakan tenaga romusha dan karyawan NV GMB.
Lapangan Udara Beroperasi
Lapangan Udara Buluh Tumbang berhasil diselesaikan dan mulai digunakan untuk kegiatan militer Jepang di kawasan Pasifik.
Jepang Menyerah, Indonesia Merdeka
Pasukan Jepang ditarik dari Belitung. Bandara diambil alih Pemerintah Daerah melalui Dinas PU.
Pengelolaan Sipil Pertama
Lapangan udara resmi diambil alih Departemen Penerbangan Sipil Pusat di bawah Syahbandar Hidayat.
Beralih ke Jawatan Penerbangan Sipil
Pengelolaan berpindah ke Jawatan Penerbangan Sipil, menandai era penerbangan komersial terorganisir di Belitung.
Pangkalan TNI AU Tanjungpandan
Pembentukan resmi Detasemen Penghubung AU Tanjungpandan, cikal bakal Lanud H.A.S. Hanandjoeddin.
Pergantian Nama Resmi
Berdasarkan SK Menhub No. SK 4/AU.106/PHB-98, nama resmi diubah menjadi Bandar Udara H.A.S. Hanandjoeddin.
Lanud Berganti Nama
Pangkalan TNI AU Tanjungpandan resmi berganti nama menjadi Pangkalan TNI AU H.A.S. Hanandjoeddin.
Perpanjangan Landasan & Modernisasi
Landasan diperpanjang hingga 3.660 m; bandara mampu menampung B737-900ER dan A320.
Status Internasional Ditetapkan
Kementerian Perhubungan RI menetapkan status bandara internasional; Garuda Indonesia membuka rute TJQ–Singapura.
AirAsia Buka Rute Kuala Lumpur
AirAsia membuka rute Tanjungpandan–Kuala Lumpur menggunakan Airbus A320.
Penghentian Penerbangan Internasional
Pandemi COVID-19 menghentikan seluruh penerbangan internasional.
Status Internasional Dicabut
Pemerintah mencabut status internasional karena tidak adanya penerbangan internasional aktif.
Status Internasional Dipulihkan
Status internasional Bandara H.A.S. Hanandjoeddin resmi dipulihkan — membuka kembali peluang penerbangan langsung ke luar negeri.